DTF vs DTG: Manakah alternatif terbaik?
Pandemi ini telah mendorong studio-studio kecil untuk fokus pada produksi Print-on-demand dan dengan itu, pencetakan DTG dan DTF telah memasuki pasar, meningkatkan minat produsen yang ingin mulai bekerja dengan pakaian yang dipersonalisasi.
Sejak saat ini, Direct-to-garment (DTG) telah menjadi metode utama yang digunakan untuk pencetakan kaos dan produksi skala kecil, namun dalam beberapa bulan terakhir Direct-to-film atau Film-to-Garment (DTF) telah membangkitkan minat terhadap industri ini, dan mendapatkan lebih banyak pendukung. Untuk memahami perubahan paradigma ini, kita perlu mengetahui apa saja perbedaan antara metode yang satu dengan metode lainnya.
Kedua jenis pencetakan ini cocok untuk barang kecil atau personalisasi, seperti T-shirt atau masker. Namun, hasil dan proses pencetakan pada kedua kasus tersebut berbeda, sehingga mungkin sulit untuk memutuskan mana yang akan dipilih untuk bisnis.
DTG:
- Ini memerlukan pra-perawatan: Dalam kasus DTG, prosesnya dimulai dengan pra-perawatan pada pakaian. Langkah ini diperlukan sebelum mencetak, karena kita akan mengerjakan langsung pada kain dan ini akan memungkinkan tinta menempel dengan baik dan menghindari perpindahannya melalui kain. Selain itu, kita perlu memanaskan pakaian sebelum mencetak untuk mengaktifkan perawatan ini.
- Mencetak langsung ke garmen: Dengan DTG Anda mencetak Direct to Garment, jadi prosesnya bisa lebih singkat dibandingkan DTF, tidak perlu transfer.
- Penggunaan tinta putih: Kami mempunyai pilihan untuk menggunakan masker berwarna putih sebagai alasnya, untuk memastikan bahwa tinta tidak bercampur dengan warna media, meskipun hal ini tidak selalu diperlukan (misalnya pada alas berwarna putih) dan penggunaan masker ini juga dapat dikurangi dengan memberi warna putih hanya di beberapa area.
- Mencetak pada kapas: Dengan jenis percetakan ini kita hanya bisa mencetak pada pakaian berbahan katun.
- Pers terakhir: Untuk memperbaiki tinta, kita harus melakukan pengepresan terakhir di akhir proses dan pakaian kita akan siap.
DTF:
- Tidak perlu pra-perawatan: Di dalam Pencetakan DTF, karena sudah dicetak sebelumnya pada film, yang harus ditransfer, kain tidak perlu dirawat terlebih dahulu.
- Mencetak pada film: Di DTF kami mencetak pada film dan kemudian desainnya harus ditransfer ke kain. Hal ini dapat membuat prosesnya sedikit lebih lama dibandingkan dengan DTG.
- Bubuk perekat: Jenis pencetakan ini memerlukan penggunaan bubuk perekat, yang akan digunakan segera setelah mencetak tinta pada film. Pada printer yang khusus dibuat untuk DTF, langkah ini disertakan dalam printer itu sendiri, sehingga Anda menghindari langkah manual apa pun.
- Penggunaan tinta putih: Dalam hal ini, perlu menggunakan lapisan tinta putih, yang ditempatkan di atas lapisan warna. Ini adalah warna yang ditransfer ke kain dan berfungsi sebagai dasar untuk warna utama desain.
- Semua jenis kain: Salah satu keunggulan DTF adalah memungkinkan Anda mengerjakan semua jenis kain, tidak hanya katun.
- Transfer dari film ke kain: Langkah terakhir dari proses ini adalah mengambil film cetakan dan memindahkannya ke kain dengan mesin press.
Jadi, saat memutuskan cetakan mana yang akan dipilih, pertimbangan apa yang harus kita pertimbangkan?
- Bahan cetakan kami: Seperti disebutkan di atas, DTG hanya dapat dicetak pada bahan katun, sedangkan DTF dapat dicetak pada banyak bahan lainnya.
- Volume produksi: Saat ini, mesin DTG jauh lebih serbaguna dan memungkinkan produksi lebih besar dan lebih cepat dibandingkan DTF. Jadi, penting untuk memperjelas kebutuhan produksi setiap bisnis.
- Hasilnya: Hasil akhir cetakan satu dan cetakan lainnya cukup berbeda. Sementara di DTG gambar dan tinta menyatu dengan kain dan terasa lebih kasar, seperti alasnya sendiri, di DTF bubuk pengikat membuatnya terasa plastik, lebih berkilau, dan kurang menyatu dengan kain. Namun, hal ini juga memberikan kesan kualitas warna yang lebih baik, karena murni, warna dasar tidak ikut campur.
- Kegunaan warna putih: Secara apriori, kedua teknik tersebut memerlukan tinta putih yang cukup banyak untuk mencetak, namun dengan penggunaan Perangkat Lunak Rip yang baik, lapisan putih yang diterapkan di DTG dapat dikontrol, bergantung pada warna dasar dan dengan demikian mengurangi biaya secara signifikan. Misalnya, neoStampa memiliki mode cetak khusus untuk DTG yang tidak hanya memungkinkan Anda melakukan kalibrasi cepat untuk menyempurnakan warna, namun Anda juga dapat memilih jumlah tinta putih yang akan digunakan pada berbagai jenis kain.
Singkatnya, pencetakan DTF tampaknya lebih unggul dibandingkan DTG, namun kenyataannya, pencetakan DTF memiliki aplikasi dan kegunaan yang sangat berbeda. Untuk pencetakan skala kecil, di mana Anda mencari hasil warna yang bagus dan tidak ingin melakukan investasi besar, DTF mungkin lebih cocok. Namun DTG kini memiliki mesin cetak yang lebih serbaguna, dengan pelat dan proses berbeda, yang memungkinkan pencetakan lebih cepat dan fleksibel.



